Bagaimana Jika Hasil Akhir Serie A Ditentukan oleh Algoritme?

raden.tv – Setelah sempat terhenti sejak Maret lalu akibat pandemi Covid-19, Liga Italia Serie A musim ini dijadwalkan akan kembali bergulir mulai 20 Juni mendatang. Namun tentunya, kompetisi akan digelar dengan menyertakan beberapa protokol kesehatan yang cukup ketat.

FIGC sendiri sebelumnya mewacanakan, bahwa jika opsi melanjutkan kompetisi Liga hingga tuntas harus terkendala penghentian lagi, mereka masih memiliki dua opsi lain, yang bisa dilakukan untuk menentukan hasil akhir Serie A musim ini. Pertama adalah dengan menggelar playoff, sedangkan yang kedua yakni dengan perhitungan Algoritme. Apa itu?

Algoritme atau biasa ditulis secara tidak baku sebagai algoritma, merupakan sebuah prosedur sistematis untuk memecahkan masalah matematis, dalam langkah-langkah terbatas. Atau dalam kalimat yang paling sederhana, algoritme bisa dijelaskan sebagai sebuah rangkai keteraturan berupa angka-angka, yang jika kita telusuri dan mampu menebak polanya, maka kita bisa menentukan rangkai selanjutnya, bahkan ujungnya.

Di berbagai cabang olahraga, algoritme sudah lazim dipakai, biasanya untuk membuat simulasi dari sebuah atau beberapa pertandingan dalam suatu kompetisi. Hasilnya bisa saja akurat, namun terkadang bisa saja meleset.

Pada olahraga UFC misalnya, hitung-hitungan algoritme pernah dipakai untuk memprediksi hasil pertandingan antara McGregor sebelum menghadapi lawan-lawannya. Variabel yang disertakan dalam hitung-hitungan algoritme ini antara lain meliputi kapan McGregor melakukan ground fight, berapa lama ia bisa bertahan dalam teknik bertarung itu, pada menit ke berapa biasanya ia melakukan kuncian, dan banyak lagi variabel lainnya, rumit memang. Namun hasil perhitungannya, ternyata bisa sangat akurat.

Saat McGregor menghadapi Nate Diaz, hasil hitungan algoritme dengan jelas menyatakan Gregor akan unggul dari Diaz. Dengan mengkalkulasi kebiasaan bertarung Gregor, di menit ke berapa ia biasa mengeluarkan teknik-teknik bertarung andalannya, kita semua bisa dengan mudah mengetahui, Gregor akan menang dari Diaz. Pada kenyataannya, Gregor benar-benar menang dari Diaz.

Namun hasil hitung-hitungan algoritme juga pernah meleset, ketika Gregor bertemu Khabib Nurmagomedov. Meski di atas kertas, Gregor diunggulkan lewat statistik pukulan mematikan, ketahanan fisik, bertahan dan lain sebagainya. Nyatanya, Khabib bisa membalikkan hasil hitung-hitungan algoritme tadi, dengan menemukan antitesis dari gaya bertarung Gregor.

Di pertandingan itu, Khabib berhasil memainkan karakter petarung “grappler” atau bertarung jarak dekat, guna meredam Gregor yang terbiasa melakukan serangan-serangan terbuka. Gregor kalah mutlak lewat teknik neck-crank dari Khabib di ronde ke empat.

Tak sampai di situ, banyak analis pertandingan yang juga mengatakan, bahwa kemenangan Khabib didorong atas motivasinya membungkam mulut Gregor yang beberapa hari sebelumnya memunculkan intrik-intrik serta sentimen anti agama tertentu terhadap Khabib.

Variabel-variabel jenis ini, yang barangkali akan luput dari hitung-hitungan algoritme. Algoritme memang bisa memuat detail, serta mengkalkulasi kebiasaan bertanding dari data statistik, kemudian mengolahnya sebagai data valid yang bisa dijadikan acuan. Akan tetapi, aspek-aspek tak terukur, semisal tensi pertandingan, emosi si atlet, hingga tekanan dari penonton, ialah sesuatu yang tak mungkin bisa diikutsertakan dalam variabel perhitungan.

Lain halnya dengan cabang olahraga ketangkasan seperti Bridge ataupun Catur. Algoritme akan jauh lebih akurat pada olahraga jenis ini, karena pada keduanya, minim sekali bersentuhan dengan variabel-variabel yang tak terukur.

Lantas, bagaimana dengan sepakbola? Tentu perhitungan algoritme juga bisa diterapkan di olahraga ini, kita bisa memasukkan kebiasaan tim tertentu, melakukan serangan dari sisi mana, di menit-menit ke berapa, besaran operan sukses, tembakan ke gawang, sampai pada rataan gol per pertandingan, kemudian mengkomparasinya dengan hitung-hitungan algoritme terhadap tim lainnya. Pemenangnya, ialah salah satu dari keduanya yang unggul secara hitung-hitungan dari variabel tadi.

Lazio bisa saja mengungguli Juventus dalam hasil hitung-hitungan algoritme nantinya, begitupun Inter Milan, mungkin saja dari statistik yang mereka miliki, setelah diolah ke dalam hitung-hitungan algoritme, mampu mengungguli seluruh tim lain di Serie A. Tetapi kembali lagi, di sepakbola ada banyak variabel yang sulit sekali diukur.

Bagaimana mungkin algoritme bisa menyertakan tensi di partai-partai besar, di perebutan papan atas, di laga-laga derbi yang sarat gengsi? Rasanya algoritme masih belum mampu mengukur sampai pada detail itu.

Ambil contoh dalam permainan Football Manager, pertandingan antara Juventus melawan Torino, tentu akan berjalan tak ubahnya sebagai pertandingan biasa, sebatas disimulasikan berdasar kekuatan masing-masing tim di dalam game itu. Sebab algoritme pemrogaman dalam permainan ini, belum cukup mampu memperhitungkan aspek emosional pertandingan derbi.

Jadi, bisa dibayangkan kan jika algoritme dipakai untuk menentukan hasil kompetisi? Kompetisi akan kehilangan ruhnya, kehilangan aspek emosional di dalamnya.

Akan sangat janggal rasanya membayangkan Serie A berakhir dengan jalan hitung-hitungan algoritme, bukan dari perjuangan di atas lapangan hijau. Terakhir sekali Serie A menyudahi dan menentukan hasil kompetisinya tanpa jalur pertandingan, adalah di musim 2005/2006, ketika itu sang kampiun ditentukan lewat jalur pengadilan. Tentu akan menjadi sangat “garing” sekali jika hal yang sama kembali berulang.

Opsi memakai perhitungan algoritme sebagai penentu hasil akhir kompetisi memang masih sebatas wacana. Masih ada opsi playoff yang juga bisa dipilih, untuk dipakai hasilnya dalam menentukan siapa yang berhak berlaga di Eropa, serta tim mana yang harus terdegradasi.

Terlepas dari opsi manapun yang nantinya kelak dipilih, akan selalu muncul suara-suara ketidakpuasan mewarnai kompetisi yang berjalan tidak sesuai harapan. Terutama dari banyak pendukung tim yang baru pertama kali lagi merasakan tensi bersaing di papan atas.

Menarik untuk ditunggu, sebab jika normalnya, Serie A diwarnai suara-suara sumbang menyoal kealpaan wasit yang manusiawi, atau ketidaksesuaian penafsiran hasil VAR. Maka dalam situasi “Kenormalan Baru” kita mungkin perlu bersiap juga, pada suara-suara yang tak kalah falsnya dalam mempersoalkan hasil algoritme. Entah pada kecurangan penghitungan, atau pada data-data statistik yang bisa jadi dituding penuh rekayasa. Apapun. Yang penting ego terpuaskan. Begitu saja terus, sampai Buffon mengangkat trofi Liga Champions.

Referensi penulisan :

https://blog.wolfram.com/2014/06/20/predicting-who-will-win-the-world-cup-with-wolfram-language/

Oleh: Handi Aditya

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *