Memeluk Mimpi, Menjumpai Juventus

raden.tv – Menyaksikan pertandingan sepakbola sembari mendukung tim kesayangan secara langsung di dalam stadion, adalah sebuah cita-cita sederhana, yang diam-diam tumbuh di dalam hati mereka yang mencintai olahraga ini. Tak terkecuali bagi saya, seorang Juvedonna -pendukung wanita Juventus- yang bermimpi, suatu hari bisa melihat langsung Paulo Dybala melakukan selebrasi Dybala Mask.

Memeluk Mimpi, Menjumpai Juventus

Memeluk Mimpi, Menjumpai Juventus

Barangkali memang tak lazim, di saat banyak perempuan lain begitu mengidolakan Kpop Idol, saya justru menemukan cinta yang teramat besar terhadap Juventus. Saya pun tak tahu mengapa, rasanya belum pernah ada satu lelaki pun yang bisa membuat saya begini. Sekali jatuh cinta, lalu sulit berpindah ke lain hati. Juventus berhasil membuat saya begitu.

Di benak saya, selalu muncul keinginan menyaksikan langsung Gianluigi Buffon bercucur keringat. Di hati saya, selalu tersimpan hasrat melihat lebih dekat selebrasi Dybala Mask. Seolah tak ada nada lain yang lebih merdu di telinga ini, kecuali nada-nada dari lagu “Storia Di Un Grande Amore“. Ah, semoga kelak saya bisa menyanyikannya langsung di Juventus Stadium!

Ngomong-ngomong soal Juventus Stadium, tempat ini adalah daftar teratas dari wishlist tempat yang harus saya kunjungi, setidaknya sekali dalam seumur hidup.

Stadion mungil nan cantik, yang dibangun di atas lahan bekas stadion terdahulu, Delle Alpi ini, senantiasa menjadi magnet bagi para jutaan Juventino di seluruh dunia, tiap kali Si Nyonya Tua menggelar laga kandang. Atmosfer dari stadion berkapasitas 41.000 tempat duduk ini memang cukup memikat. Dengan jarak hanya 7,5 meter memisahkan antara suporter dan garis tepi lapangan, siapapun yang hadir berdiri di sana, seolah bisa merasakan langsung panasnya suasana pertandingan.

Jika saja perasaan bisa utuh diterjemahkan, barangkali jauh di lubuk hati saya, bertebaran banyak panggilan rindu, terhubung antara jendela kamar tempat saya mengetikkan tulisan ini, sampai ke kursi di tribun stadion karya arsitektur Hernando Suarez dan Gino Zavanella itu.

Tapi, ah. Rasanya terlalu mustahil. Sebab mimpi itu terhalang oleh jarak 11.208 km jauhnya. Harga tiket pesawat yang cukup mahal, membuat mimpi ini seolah tetap menjadi mimpi. Cinta dan rindu di dada ini terlalu sulit diraih. Rasanya, mendukung dari muka layar kaca, menyanyikan yel-yel, sembari menyelipkan doa bagi Juventus, adalah bentuk cinta yang paling masuk akal, yang bisa saya perjuangkan saat ini.

Mimpi untuk bisa merasakan riuh atmosfer Juventus Stadium, bersama ribuan Juventini lainnya suatu saat nanti, memang terpaksa saya kesampingkan. Namun sebagaimana cinta yang selalu menemukan jalannya sendiri, doa dan mimpi saya sedikit terjawab.

Pada awal tahun 2019, Juventus mengumumkan akan melaksanakan tour International Champions Cup (ICC), yang akan digelar di National Stadium Singapura. Sontak hati saya langsung melonjak-lonjak kegirangan. Juventus seolah terasa begitu dekat saat itu.

Bahagia? Itu pasti. Jutaan Juventini di seluruh penjuru Asia, tentu merasakan kebahagiaan serupa. Terlebih saya, sebab setelah sekian lama, akhirnya mimpi ini sedikit lagi bisa terwujud. Namun tak ada mimpi yang mudah diwujudkan. Seketika saya harus mencari-cari cara, demi mewujudkan mimpi ini, karena ongkos ke Singapura tidaklah murah.

Demi Juventus, saya sampai rela menguras tabungan di sana-sini. Padahal tadinya, tabungan itu kelak akan saya gunakan untuk membeli keperluan saya yang lain. Saya bahkan sampai memelas kepada orang tua, supaya diberikan izin untuk bisa terbang dan menyaksikan langsung Paulo Dybala dkk di Singapura.

Ternyata benar kata orang, cinta memang butuh pengorbanan, butuh biaya yang tidak sedikit. Tetapi syukurlah, cinta saya kali ini masih bisa terjangkau. Setidaknya, ongkosnya tak semahal terbang langsung ke Turin.
Kunjungan ini memang bukan yang pertama. Sebelumnya, Juventus bahkan pernah sangat begitu dekat, ketika mereka menginjakkan kaki di Stadion Utama Gelora Bung Karno, tahun 2015 silam. Tetapi saat itu, belum ada kesempatan bagi saya untuk menyaksikan langsung Gianluigi Buffon dkk di Jakarta. Ah, menyesal sekali rasanya melewatkan hari itu.

Karenanya, saya tak akan melewatkan kesempatan emas ini untuk yang kedua kali. Kali ini, saya bersama tiga orang sahabat Juvedonna saya yang lain, Nensi, Ulan dan Nuy. Kami bahkan sampai mempersiapkan keberangkatan dari jauh-jauh hari.

Kami saling berbagi tugas, mulai dari mencari tiket pesawat, hotel, tiket pertandingan, sampai ke tempat-tempat wisata di Singapura, yang nantinya bisa dikunjungi. Kedai Ibu di dekat salah satu pemberhentian MRT, dengan sajian Nasi Lemak seharga 3 Dolar berikut Es Teh Manis seharga 1 Dolar, harus masuk dalam daftar tujuan!

“Dybala, kita ketemu bulan Juli!” begitu sekiranya kalimat yang kerap saya ucapkan dalam hati, seraya menantikan pertemuan yang telah lama saya tunggu-tunggu. Sayangnya, ajang ICC kali ini dilaksanakan berdekatan dengan ajang Copa America 2019. Alhasil pemain-pemain Juventus yang berasal dari America Latin seperti Costa, Cuadrado dan Paulo Dybala, tidak diikutsertakan Maurizio Sarri, karena masih diberi jatah libur.

Kecewa sih pasti, apalagi sosok yang begitu saya dambakan, Paulo Dybala sang La Joya, tidak bisa ikut hadir dalam kunjungan kali ini. Sedih rasanya setelah tahu Dybala Mask belum bisa saya saksikan secara langsung kali ini. Namun, saya baru sadar, bahwa cinta saya terhadap Juventus masih terlalu besar untuk bisa terkikis karena ketidakhadiran Dybala. Juventus tetaplah Juventus. Dengan atau tanpa Dybala, saya tetap mencintainya. Semangat saya menantikan Bianconeri berlaga secara langsung, mengalahkan kekecewaan saya saat itu.

Akhirnya pada tanggal 21 Juli 2019, National Stadium menjadi saksi. Mimpi seorang suporter layar kaca seperti saya, untuk menyaksikan tim kesayangannya bisa terwujud. Hati saya bergetar, saat menyanyikan anthem Storia Di Un Grande Amore. Tak ada keletihan sedikitpun di diri saya saat itu, tak ada kecanggungan sama sekali, saat saya meneriakkan chants penyemangat di hampir sepanjang pertandingan.

Meski laga Juventus vs Tottenham yang saya saksikan itu, berakhir dengan kekalahan bagi Juve 2-3. Namun sepasang gol dari Cristiano Ronaldo dan Gonzalo Higuain, adalah bukti penanda, dari terwujudnya mimpi dan cita-cita saya menyaksikan Juventus secara langsung di dalam stadion.

Walau belum sampai ke Turin, namun ‘ibadah wajib’ sebagai seorang Juvedonna, yang mendukung Juventus langsung dari tribun, serta menyanyikan anthem dan yel-yel dalam bahasa Italia, setidaknya sudah pernah saya lakukan.

Terima kasih Juventus! Malam itu sungguh sangatlah berkesan bagi saya. Namun tetap saja, rasanya masih belum cukup. Masih terlalu sebentar, masih kurang lantang suara ini meneriakkan “Forza Juve Forza Juve” berulang-ulang. Semoga kita bisa berjumpa lagi lain waktu. Tunggu saya di Juventus Stadium, ya!

Ini adalah sebuah cerita sederhana yang teramat manis, tentang sebuah perjalanan menyenangkan, yang di dalamnya penuh dengan banyak perjuangan. Ada banyak hal pahit dan rumit, yang sebetulnya sempat mewarnai perjalanan ini.

Tetapi sebagaimana layaknya kisah cinta yang jauh dari kesempurnaan, mari kita ceritakan yang manis-manisnya saja. Doa saya menyertai siapapun, tifosi manapun yang membaca tulisan ini, yang juga memiliki mimpi yang sama seperti saya. Semoga dibukakan jalan untuk memeluk mimpi kalian, seperti mimpi saya, berjumpa langsung dengan klub yang begitu saya cintai di malam tak terlupakan.

Oleh : Syarifah Nadia Allydrus. Bisa disapa di @nadiaallydrus