Gattuso dan Kemenangan Besarnya atas Media

raden.tv – Ada banyak narasi berita yang sering dibesar-besarkan media di Italia, entah soal drama-drama pertandingan, sampai kepada spekulasi asal-asalan yang belum bisa dibuktikan kebenarannya. Dalam hal ini, adalah ketika Gennaro Gattuso memutuskan berpisah dari klub yang begitu dicintainya, AC Milan, di musim 2011-2012 lalu.

Gattuso dan Kemenangannya atas Media

Gattuso dan Kemenangan Besarnya atas Media

Beberapa media yang masih waras, masih cukup objektif menyebut soal penurunan performa Gattuso di Milan, beberapa musim terakhirnya. Namun beberapanya lagi, justru mengangkat isu perselisihan dengan sang pelatih, Massimilliano Allegri. Padahal yang terjadi sebenarnya, tidak demikian.

Saat itu Gattuso diketahui tengah bergelut dengan masalah penglihatannya. Ia didiagnosa mengalami kelumpuhan tingkat enam pada mata sebelah kiri. Pandangannya kabur serta tak lagi fokus. Permasalahan ini ia alami sejak dirinya berbenturan keras dengan rekan setimnya, Alessandro Nesta.

Semenjak benturan itu, Gattuso kerap mengalami nyeri saat memandang ke samping kiri dan kanan. Dokter menyebut, benturan itu memiliki dampak yang cukup signifikan pada disfungsi syaraf otak Gattuso. Jika tak segera ditangani, bukan tak mungkin ia akan kehilangan sebelah penglihatannya.

Tipikal media di Italia memang seperti itu, menjual narasi sepakbola yang dibumbui banyak omong kosong. Siapapun yang buta literasi, pasti akan dengan mudah percaya begitu saja. Termasuk menjual gosip murahan perseteruan Allegri dan Gattuso.

Memang, Gattuso pernah angkat suara mengenai keputusannya untuk meninggalkan Milan, salah satunya adalah karena dirinya sudah tak kerasan berada di ruang ganti. Ia pun juga mahfum, jika dirinya tak lagi menjadi bagian dari rencana Allegri. Namun ia menerima keputusan itu dengan lapang dada dan sikap profesional.

“Saat meninggalkan Milan, aku sudah tak lagi menikmati suasana di ruang ganti. Sebab dulu, tim ini begitu mudah diatur.”

“Karena masalah di mataku, aku tidak selalu bisa hadir di Milanello. Tapi hal ini justru membuatku melihat beberapa hal dari perspektif yang berbeda.”

Kegusaran Gattuso terhadap kondisi ruang ganti Milan saat itu, memang menggambarkan bahwa tengah terjadi masalah kedisiplinan yang cukup serius di ruang ganti Milan. Milan seolah kehilangan sosok panutan yang selama bertahun-tahun berhasil menjaga kondusifitas ruang ganti. Dan Allegri, bukanlah sosok yang ia nilai mampu mengembalikan kondusifitas ruang ganti Milan seperti semula.

Sikap yang diperlihatkan Gattuso ini, seolah menegaskan bahwa dirinya memang merupakan sosok yang begitu mengutamakan kedisiplinan. Sebuah etos kerja yang telah dibawanya sejak lama, bahkan ketika dirinya masih merantau di Glasgow Rangers dulu.

“Selama 2-3 bulan terakhirku di Milan, aku melihat hal-hal yang belum pernah kulihat sebelumnya selama 13 tahun aku berada di klub ini. Ketika kami akan berlatih pukul 09.30, banyak pemain yang datang hanya 10 menit lebih awal. Dan mereka hanya diam saja.”

“Aku datang 45 menit lebih awal untuk melakukan beberapa latihan sendiri. Mendapatkan pijat (semacem pijat refleski) atau sekedar menikmati secangkir kopi. Ini sudah seperti budaya dan kebiasaan yang sudah bertahun-tahun.”

“Aku merasa ada kurangnya penghormatan terhadap aturan di Milan selama beberapa tahun terakhir aku di klub. Ini adalah situasi yang benar-benar membuat kesal para pemain yang lebih tua di skuad Milan.”

“Jika kamu menghabiskan waktu untuk mengkritik pemain yang datang terlambat, itu akan menghilangkan energimu. Energi yang semestinya kau gunakan di atas lapangan.”

Namun berseberangannya ia dengan Allegri, tak lantas membuat hubungan keduanya memburuk. Gattuso pergi meninggalkan rasa hormat pada Allegri, sementara Allegri melepas Gattuso dengan doa dan harapan terbaik bagi keberlanjutan karir Gattuso.

Hubungan keduanya masih baik-baik saja sampai hari ini, tidak ada pembangkangan, seperti yang banyak dinarasikan media yang menyudutkan namanya saat itu. Begitulah Gattuso, memberi pesan untuk tetap memberi rasa hormat, bahkan terhadap orang yang berseberangan dengan pendiriannya sekalipun.

Perjalanan panjang telah membawa Gattuso kini sampai pada kursi kepelatihan. Meski tak selalu mulus, namun tak ada jalan terjal yang tak mampu ia lalui. Pelan tapi pasti, Gattuso mulai menemukan caranya sendiri menaklukkan berbagai aral yang merintanginya.

Sorotan mengenai dirinya saat melatih, baru mulai terasa ketika Gattuso dipercaya menangani tim utama AC Milan. Bagaimana pun, harus diakui, Milan sudah seperti sebuah kapal raksasa tua yang bocor di sana sini. Dengan atau tanpa diterjang ombak pun, Milan sudah pasti tenggelam. Dan Gattuso, sehebat apapun ia menjadi nahkoda, mustahil membawa kapal sebesar itu beranjak ke mana-mana.

Ada peristiwa mengharukan, ketika salah satu anak asuhnya, Gianluigi Donarrumma, mendapat serangan verbal dari pendukung Milan seisi stadion, karena termakan isu tuntutan gaji Donarrumma yang dihembuskan oleh media.

Gigio yang masih sangat muda saat itu, sampai menitikkan air mata di atas lapangan, karena seisi stadion meneriakinya dengan sebutan “Dollarumma”.

Gattuso yang tak tahan melihat situasi itu, langsung berlari menghampiri Gigio. Ia tahu, ia harus selekasnya melindungi anak ini. Bagaimana pun, dirinya pernah menerima perlakuan yang sama, dari media-media yang pernah menghakiminya sepihak, melabelinya pembangkang, hingga menimbulkan gejolak dari banyak orang yang mempercayai berita itu.

Malam itu Gattuso langsung memeluk Donarrumma. Sebagai bekas pemain, ia tahu bagaimana rasanya berada di posisi sesulit anak asuhnya. Malam itu lewat dekap tangannya, ia hendak membesarkan serta menguatkan hati Gigio. Gattuso bahkan tetap merangkulnya sampai keduanya benar-benar meninggalkan lapangan pertandingan. Sebuah momen yang membuat siapapun kita, terharu. Atau setidaknya, merasakan hangat di ulu hati.

Saat ini Gattuso dipercaya mengemban kursi kepelatihan Napoli. Sebuah klub besar yang tengah limbung menemukan lagi jalannya di peta persaingan gelar juara. Gattuso sadar betul, ia datang dengan membawa keraguan di sana-sini. Tak pernah benar-benar ada yang memperhitungkan Gattuso saat itu, terlebih saat di Milan dulu, ia tak mampu berbuat apapun, kecuali memperlambat laju Milan yang kian tenggelam.

Keraguan makin terasa, ketika di laga debutnya sebagai pelatih, Napoli justru dikalahkan oleh Parma dengan skor 1-2 di kandang sendiri. Dari situ saja, Gattuso sudah mulai dihakimi lagi oleh media. Tak sedikit artikel yang mulai berani menerawang kiprah Gattuso, hanya akan bertahan sebentar. Gattuso menjadi bahan olok-olok di pekan itu. Kita semua mungkin jadi bagian yang menertawakannya.

Di bawah kepemimpinannya, Napoli disulap menjadi tim yang disiplin dalam bertahan. Sudah tak ada lagi Napoli yang menyerang dengan sangat sporadis seperti era Maurizio Sarri dulu. Sebab Gattuso tahu, untuk memenangkan sebuah kompetisi yang panjang, ia perlu memulainya dari membangun pertahanan terlebih dahulu.

Duet Koulibaly bersama Manolas di lini belakang, menjadi kian sulit ditembus, sebab di lini tengah Napoli, Gattuso menempatkan Fabian Ruiz sebagai jenderal yang mengatur transisi bertahan dan menyerang. Skema ini membuat Insigne menjadi lebih leluasa fokus dalam mengawal serangan, ataupun berlama-lama memainkan bola, guna membuka ruang bagi Milik dan Mertens di depan.

Metamorfosa Napoli secara taktikal, yang dulu terkenal dengan permainan cantik dan menghibur, menjadi lebih pragmatis dan membosankan, tentu tak luput dari berbagai cibiran. Namun Gattuso tetap bersabar menyempurnakan skema yang dibawanya.

Pelan tapi pasti, Napoli dibawanya menapaki tempat-tempat yang tak pernah dibayangkan orang sebelumnya. Puncaknya Kamis dini hari lalu (18/6), saat Napoli menghadapi Juventus di Coppa Italia. Secara mengejutkan, lewat skema bertahan yang dibawa Gattuso, Napoli mampu membuat Juventus gigit jari.

Kemenangan Napoli di ajang final Coppa Italia malam itu, menjadi keberhasilan bagi Gattuso dalam meraih trofi pertamanya. Gattuso berhasil membuktikan kepada banyak orang, bahwa kerja keras yang dibangunnya, bisa melampaui keraguan bahkan kemustahilan di benak mereka yang mencibirnya.

Lebih dari itu, trofi perdana Gattuso ini, adalah buah penanda dari keberhasilannya, dalam membungkam banyak media yang pernah menghakiminya dulu.

Selamat, Coach!

Oleh: Handi Aditya